Dalam hubungan jangka panjang, frekuensi hubungan intim tidak selalu sama. Ada pasangan yang cukup sering berhubungan intim, sementara pasangan lain mungkin hanya sesekali. Kesibukan, kelelahan, kondisi kesehatan, perubahan hormon, hingga dinamika hubungan dapat memengaruhi keinginan untuk berhubungan intim.
Lalu, jika Anda dan pasangan jarang intim, apakah itu berarti hubungan sedang bermasalah?
Belum tentu. Tidak ada angka frekuensi hubungan intim yang berlaku sebagai standar untuk semua pasangan. Yang lebih penting adalah apakah kedua pihak merasa nyaman, memiliki kebutuhan yang dapat dibicarakan, dan tidak mengalami tekanan dalam hubungan.
Seberapa Sering Hubungan Intim Dianggap Normal?
Tidak ada frekuensi yang bisa disebut “normal” untuk setiap pasangan.
Kebutuhan seksual setiap orang berbeda dan dapat berubah sepanjang kehidupan. Ada pasangan yang merasa puas dengan hubungan intim beberapa kali dalam seminggu, sementara pasangan lain merasa baik-baik saja jika frekuensinya jauh lebih jarang.
Karena itu, membandingkan kehidupan seksual dengan pasangan lain atau angka yang ditemukan di media sosial tidak selalu relevan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah saya dan pasangan sama-sama nyaman dengan kondisi ini?”
Jika keduanya merasa puas dan tidak ada masalah yang mengganggu, frekuensi yang jarang tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan.
Mengapa Pasangan Bisa Jarang Berhubungan Intim?
Ada banyak alasan mengapa frekuensi hubungan intim menurun. Beberapa di antaranya bahkan tidak berkaitan langsung dengan kualitas hubungan.
1. Kesibukan dan Kelelahan
Pekerjaan, mengurus rumah, merawat anak, atau aktivitas sehari-hari yang padat dapat menguras energi. Setelah menjalani hari yang panjang, seseorang mungkin lebih membutuhkan tidur dan istirahat daripada aktivitas seksual.
Kelelahan yang berlangsung terus-menerus juga dapat menurunkan minat terhadap hubungan intim.
2. Stres dan Beban Pikiran
Stres dapat memengaruhi tubuh sekaligus pikiran. Masalah pekerjaan, keuangan, keluarga, atau berbagai persoalan lain dapat membuat seseorang sulit merasa rileks dan menikmati kedekatan dengan pasangan.
Ketika pikiran terus dipenuhi masalah, libido pun dapat ikut berubah.
3. Perubahan Hormon
Perubahan hormon dapat memengaruhi gairah seksual. Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai tahap kehidupan, termasuk selama kehamilan, setelah melahirkan, menjelang menopause, atau akibat perubahan hormonal tertentu.
Pada pria, perubahan kadar hormon tertentu juga dapat berkaitan dengan perubahan libido.
Namun, perubahan gairah tidak selalu disebabkan oleh hormon. Faktor fisik, psikologis, obat-obatan, dan hubungan juga dapat berperan.
4. Obat atau Kondisi Kesehatan Tertentu
Beberapa kondisi kesehatan dan obat-obatan dapat memengaruhi gairah seksual atau kemampuan seseorang untuk melakukan hubungan intim.
Misalnya, gangguan tertentu yang menyebabkan nyeri, kelelahan, masalah ereksi, atau kekeringan vagina dapat membuat hubungan seksual terasa tidak nyaman.
Jika perubahan terjadi setelah mulai mengonsumsi obat tertentu atau bersamaan dengan munculnya keluhan fisik, konsultasikan dengan dokter sebelum menghentikan obat secara sepihak.
5. Masalah dalam Hubungan
Kedekatan emosional dan hubungan seksual sering kali saling berkaitan.
Konflik yang belum selesai, kurangnya komunikasi, rasa kecewa, atau hilangnya rasa dekat dengan pasangan dapat membuat keinginan untuk berhubungan intim berkurang.
Dalam situasi seperti ini, memaksakan hubungan seksual biasanya bukan solusi. Komunikasi yang terbuka justru dapat membantu pasangan memahami apa yang sedang terjadi.
Jarang Intim Bukan Berarti Tidak Saling Mencintai
Ini adalah salah satu kesalahpahaman yang cukup umum.
Frekuensi hubungan intim tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya ukuran cinta atau kualitas sebuah hubungan. Ada pasangan yang menunjukkan kedekatan melalui komunikasi, perhatian, sentuhan, waktu bersama, atau dukungan emosional.
Sebaliknya, pasangan yang sering berhubungan intim juga belum tentu terbebas dari masalah hubungan.
Yang terpenting adalah adanya persetujuan, rasa aman, komunikasi, dan kepuasan bersama.
Bagaimana Jika Salah Satu Pasangan Ingin Lebih Sering?
Perbedaan libido merupakan hal yang dapat terjadi dalam hubungan.
Masalah biasanya muncul ketika kebutuhan kedua pasangan berbeda dan tidak dibicarakan. Salah satu mungkin merasa ditolak, sedangkan pasangan lainnya merasa tertekan atau dituntut.
Daripada menyalahkan, cobalah membicarakannya pada waktu yang tenang. Hindari percakapan ketika salah satu sedang marah atau baru saja mengalami penolakan.
Gunakan kalimat yang berfokus pada perasaan dan kebutuhan, misalnya:
“Aku merasa kita belakangan kurang punya waktu untuk dekat. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan supaya sama-sama nyaman?”
Pendekatan seperti ini dapat membuka ruang untuk berdiskusi tanpa membuat pasangan merasa diserang.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi?
Jarang berhubungan intim tidak selalu membutuhkan penanganan medis. Namun, konsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan dapat dipertimbangkan jika penurunan gairah:
-
terjadi secara tiba-tiba dan menetap;
-
mengganggu hubungan atau menimbulkan tekanan emosional;
-
disertai nyeri saat berhubungan seksual;
-
disertai masalah ereksi atau ejakulasi;
-
disertai kekeringan vagina atau keluhan fisik lainnya;
-
muncul bersamaan dengan perubahan kesehatan atau penggunaan obat tertentu; atau
-
membuat Anda atau pasangan merasa sangat tertekan.
Konseling pasangan atau terapi seksual juga dapat membantu jika persoalannya lebih banyak berkaitan dengan komunikasi, konflik, atau perbedaan kebutuhan seksual.
Jangan Terjebak pada Angka
Pada akhirnya, tidak ada jadwal hubungan intim yang wajib diikuti semua pasangan.
Ada masa ketika pasangan lebih sering berhubungan intim dan ada pula masa ketika frekuensinya menurun. Perubahan tersebut dapat menjadi bagian dari dinamika kehidupan.
Jadi, jarang intim dengan pasangan bisa saja normal, selama kedua pihak merasa nyaman, tidak ada unsur paksaan, dan kebutuhan masing-masing dapat dikomunikasikan dengan sehat.
Jika perubahan terasa mengganggu atau disertai keluhan fisik maupun emosional, jangan ragu mencari bantuan profesional. Kehidupan seksual yang sehat bukan tentang memenuhi angka tertentu, melainkan tentang kenyamanan, komunikasi, persetujuan, dan kualitas kedekatan antara pasangan.
